“GELIS” GERAKAN PEDULI STROKE

=================================================
– Upaya komunikasi, informasi, edukasi dan sekaligus advokasi tersebut harus menghasilkan komitmen gerakan dan jaringan peduli dan pro stroke yang kuat, kalau perlu diberi nama populer seperti “GELIS” singkatan dari “Gerakan Peduli Stroke”. Nama ini sekaligus memberi konotasi segera, cito, atau cepat ! (Prof Dr. Haryono Suyono, Ketua Harian Yastroki) –
=================================================
Selama bulan puasa ini, Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), mengadakan “Safari Stroke” untuk mengajak masyarakat membangun kesadaran dan kepedulian terhadap bahaya serangan otak Stroke. Seperti diketahui, penduduk di banyak negara berkembang, antara lain di Indonesia, mengalami transisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang maha dahsyat. Berbagai proses transisi itu diikuti upaya penyesuaian oleh pemerintah maupun unsur-unsur masyarakat. Sebagian lagi belum atau sama sekali tidak dikuti oleh proses ikutan tersebut. Akibatnya, utamanya di lingkungan rakyat sederhana, banyak keluarga tertinggal dan menderita karena tidak mampu menyesuaikan diri dalam proses transisi yang maha dahsyat dan sangat cepat itu.

Lebih dari itu, banyak keluarga tidak siap menghadapi munculnya berbagai jenis penyakit regeneratif seperti darah tinggi, stroke, dan gula. Karena itu Yastroki mengambil prakarsa untuk mendampingi masyarakat melakukan persiapan menghadapi transisi atau membantu mengatasi masalah yang disebabkan adanya transisi dahsyat tersebut.

Karena upaya pendampingan dalam proses itu berlangsung lama, yang antara lain merubah tidak saja pengertian tentang jumlah penduduk, kecepatan pertumbuhannya, ciri-ciri utamanya, tetapi juga jenis transformasi lain yang lebih luas, yaitu mengubah sikap, tingkah laku, dan lingkungan penduduk berinteraksi. Institusi masyarakat terkecil, yang di masa lalu dominan, yaitu keluarga, dalam suasana transformasi ini makin tipis pengaruhnya dalam proses sosialisasi, terutama dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah aktual yang dihadapi keluarga.

Tidak seperti di negara maju sebelumnya, penduduk di negara berkembang mengalami transisi demografi yang sangat cepat karena intervensi langsung pemerintah dan masyarakat dalam bidang KB dan kesehatan. Kalau negara-negara Eropa yang maju memerlukan waktu antara 100 sampai 150 tahun untuk mengadakan penyesuaian, keluarga Indonesia “dipaksa” melakukannya dalam waktu kurang dari satu generasi. Struktur penduduk Indonesia yang berciri muda dengan cepat berubah menjadi struktur penduduk dengan ciri tua. Jumlah penduduk 15 – 24 tahun, bahkan 15 – 65 tahun melipat jumlahnya menjadi dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan keadaannya pada tahun 1970-an. Penduduk lanjut usia diatas 65 tahun bahkan melipat jumlahnya menjadi empat sampai lima kali dibandingkan keadaannya pada tahun 1970-an. Kecepatan lipatan ini mengundang resiko terkena stroke yang bertambah tinggi.

Transisi dan transformasi diikuti oleh berubahnya ciri penduduk pedesaan yang ditahun 1970-an masih berjumlah sekitar 80 persen, dewasa ini tinggal tersisa sekitar 50 persen atau kurang, dan menyusut dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bahkan, mereka yang masih tetap tinggal di daerah pedesaan mengalami kemajuan pribadi yang sangat signifikan dalam hal pendidikan dan akses terhadap informasi serta ajakan pada modernisasi dengan makin menyebarnya sarana komunikasi seperti radio, tv, surat kabar dan media informasi lainnya. Ciri perkotaan yang mungkin saja secara fisik masih merambat meninggalkan angka 50 persen, sudah didahului dengan ciri mental aspiratif yang memberi warna urban kepada penduduk Indonesia pada umumnya. Perubahan dan proses penyesuaian pada ciri-ciri modernisasi ini, yang diikuti dengan perubahan gaya hidup, pola makan, dan keakraban lingkungan hidup serta daya tampung otak dengan keseimbangan tubuh lainnya belum dipahami oleh keluarga dan penduduk umumnya secara mendalam.

Akibatnya, disatu pihak, resiko fisik dan mental yang pada umumnya dihadapi oleh setiap penduduk bertambah tinggi, padahal daya tahan dan dukungan lingkungan, termasuk dukungan dari unsur-unsur dalam berbagai bidang, utamanya dalam bidang kesehatan, belum, atau bahkan sama sekali tidak siap.

Ketidaksiapan itu juga nampak nyata dalam bidang politik dan budaya sehingga menimbulkan goncangan budaya dan politik yang mempunyai pengaruh sangat buruk terhadap pola kehidupan umat manusia sehari-hari. Perubahan pola budaya lingkungan ini mengacaukan seluruh kehidupan pribadi maupun dalam kelompok yang sangat dahsyat. Banyak yang kemudian berubah menjadi manusia liar yang tidak menghargai budaya hormat menghormati sesamanya. Memandang rendah kepada keluarga dalam lingkungan dekatnya, dan bersifat asing terhadap sanak saudaranya. Tidak jarang yang makin tidak peduli terhadap tetangganya.

Tekanan-tekanan politik dan budaya seperti ini menjadi pendorong makin tumbuhnya faktor resiko terhadap serangan stroke. Tekanan itu karena faktor-faktor seperti ini bisa mendorong perubahan pola makan, kebiasaan hidup bersahabat dengan silaturahmi yang akrab setiap hari dan atau menimbulkan tekanan mental yang mendorong faktor resiko lain yang bisa mendorong terkena serangan stroke yang lebih tinggi.

Perubahan cepat itu juga menimbulkan kesulitan bagi pemerintah, terutama bagi instansi yang ditugasi untuk menyediakan pelayanan informasi serta pelayanan preventif dan kuratif lainnya. Proses transisi dan transformasi terjadi secara serentak dan dalam berbagai bidang. Agak sukar bagi pemerintah, dengan segala keterbatasannya, untuk melakukan antisipasi yang bijaksana dan bisa menyesuaikan diri dengan kepuasan semua pihak. Dengan alasan-alasan itu Yastroki ingin ikut serta membantu pemerintah dengan mengetengahkan beberapa unsur yang kiranya dapat dipergunakan untuk merumuskan strategi nasional, mengembangkannya menjadi suatu program aksi, melaksanakannya dengan dukungan komitmen dan anggaran yang mencukupi, atau mendorong partisipasi masyarakat dengan fasilitasi dan suasana politik yang kondusif.

Diperlukan strategi untuk ikut mengatasi persoalan, seperti yang digariskan pemerintah, yaitu pada “tahun 2010 seluruh penduduk Indonesia mengetahui pola hidup sehat dan sejahtera”. Karena sempitnya waktu perlu segera dikembangkan upaya-upaya yang bisa merangsang hidup sehat dan mencegah kemungkinan serangan otak atau biasa disebut Stroke.

Upaya itu antara lain berupa peningkatan kesadaran, pendidikan, dan sekaligus pelatihan Hidup Sehat yang diwujudkan melalui berbagai upaya di sekolah, atau di lingkungan masyarakat luas. Tujuannya adalah agar setiap anak bangsa, terutama keluarga rawan stroke, juga keluarga dengan penderita stroke, dapat menjadi pendamping yang akrab terhadap kemungkinan terkena stroke. Pemberian pengetahuan tentang pola hidup sehat tersebut idealnya diberikan sejak sekolah dasar.

Proses advokasi dan edukasi itu harus dilakukan dengan sekaligus membangun Jaringan Akrab Stroke, yaitu pengembangan jaringan nasional dan internasional yang peduli terhadap stroke dan penanggulangannya. Proses ini, seperti yang sedang dilakukan Yastroki, adalah meningkatkan “penjualan” gagasan berupa kasus contoh nyata atau menunjukkan dengan jujur adanya bahaya serangan otak atau stroke. Pemaparan itu sekaligus memberitahukan bahwa setiap insan bisa menjadi akrab stroke, yaitu peduli terhadap stroke dan melatih diri sendiri untuk berjuang melawan stroke.

Karena gerakan perjuangan pro peduli stroke sifatnya baru, strategi komunikasi informasi dan edukasinya, atau KIE, memainkan peran sangat penting. Strategi ini merupakan tindak lanjut dari upaya peningkatan komitmen politik dari para pemimpin di daerah. Namun demikian bisa juga strategi ini dikemas dan dilaksanakan lebih dulu sebelum seorang pimpinan menunjukkan komitmen yang tinggi. Upaya tersebut sekaligus merupakan upaya peningkatan kesadaran yang dapat dilakukan dalam dua arah, yaitu dari pihak yang memang mempunyai kompetensi dan dari mereka yang mempunyai minat untuk bergabung dalam gerakan peduli stroke. Dari manapun dan bagaimanapun bentuk awal dari upaya peningkatan kesadaran ini jangan dirisaukan. Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) menempuh jalan yang paling mudah, yaitu mengundang pengurus daerah untuk tampil melalui televisi regional di Surabaya, Yogyakarta dan Semarang.

Upaya ini dilakukan dengan sengaja karena peningkatan pengetahuan dan kesadaran tersebut bersifat konsisten dan berkelanjutan. Peranan pemimpin cabang Yastroki sangat besar agar upaya upaya ini menghasilkan jaringan pelayanan komunikasi, informasi, edukasi dan advokasi serta kegiatan-kegiatan konseling yang bermutu, bermanfaat dan dapat diakses serta mudah dikerjakan oleh banyak kalangan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus menghasilkan jaringan rakyat karena sifat dari keluarga dan penduduk yang bisa rawan stroke tidak terbatas pada kalangan elite intelektual belaka.

Upaya komunikasi, informasi, edukasi dan sekaligus advokasi tersebut harus menghasilkan komitmen gerakan dan jaringan peduli dan pro stroke yang kuat, kalau perlu diberi nama populer seperti “GELIS” singkatan dari “Gerakan Peduli Stroke”. Nama ini sekaligus memberi konotasi segera, cito, atau cepat ! (Prof Dr. Haryono Suyono, Ketua Harian Yastroki)-Oktober-Stroke-7Oktober2006

Sumber tulisan:

http://www.yastroki.or.id/read.php?id=304

Sumber gambar:
1. http://www.yastroki.or.id/images/news/img_304_l.jpg
2. http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:RuXIMV0moE1yvM:http://www.waikatodhb.govt.nz/images/20556.jpg

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: